pembelajaran menulis

PEMBELAJARAN MENULIS DENGAN STRATEGI PEMODELAN

(SUATU MODEL PEMBELAJARAN MENULIS DENGAN PENDEKATAN PROSES DAN PRODUK)

 

Abstrak: Dalam pembelajaran menulis, pemodelan merupakan strategi yang berangkat dari kegiatan membaca teks model, menganalisis teks model, dan berlatih menulis dengan meniru konstruksi teks model.  Melalui tahap-tahapan tersebut siswa memperoleh contoh tulisan, pengenalan dan pemahaman unsur-unsur tulisan, memahami cara atau teknik menulis dengan benar.  Melalui strategi ini pula siswa dapat membangun pengetahuannya tentang cara menulis yang benar. Tidak hanya itu, keberadaan teks model juga membantu mengurangi kesulitan siswa pada saat mengerangkakan dan menuangkan gagasannya ke dalam bentuk tulisan.

Kata Kunci: pembelajaran menulis, teks model, pemodelan.

1. Pendahuluan

Menulis bukanlah sesuatu yang asing bagi sebagian orang. Bahkan, bagi guru dan siswa membaca beberapa produk dari kegiatan menulis pun sudah sering dilakukan. Namun, sangat disayangkan banyak guru dan siswa yang.tidak menyukai kegiatan menulis. Dari survey yang pernah dilakukan terhadap guru bahasa Indonesia (Suparno, 2008),  aspek pelajaran bahasa yang paling tidak disukai guru dan siswa adalah menulis.

Ada beberapa penyebab seseorang tidak suka menulis, di antaranya (1) karena tidak tahu untuk apa ia menulis, (2) merasa tidak berbakat, (3) tidak tahu cara menulis. Ketidaksukaan seseorang dalam menulis tidak terlepas dari pengaruh lingkungan keluarga dan masyarakat, serta pengalaman pembelajaran menulis di sekolah yang kurang memberi motivasi dan tidak menarik (Graves, 1978).

Berkenaan dengan pembelajaran menulis, Smith (1981) mengungkapkan bahwa pengalaman belajar menulis siswa di sekolah tidak terlepas dari kondisi gurunya sendiri. Pada umumnya, guru tidak dipersiapkan untuk terampil menulis dan terampil mem-belajarkannya kepada siswa. Akibatnya, ketika melaksanakan pembelajaran menulis, guru tersebut mengandalkan strategi pembelajaran menulis sebagaimana yang tertera dalam buku paket.

Pendapat para ahli sehubungan dengan pelaksanaan pembelajaran menulis di atas, masih relevan dengan kondisi pembelajaran menulis dewasa ini. Berdasarkan hasil pengamatan penulis, kebanyakan kegiatan pembelajaran menulis yang dilaksanakan guru diawali dengan melatih siswa menentukan tema, merumuskan tujuan, membuat kerangka, dan mengembangkan kerangka karangan. Untuk menulis  paragraf sederhana pun guru memulai dengan membuat kerangka paragraf. Penjelasan dan kegiatan tersebut dilakukan berulang-ulang dan hasilnya adalah siswa hafal langkah-langkah kegiatan menulis tetapi kesulitan ketika menulis.

Bagi sebagian orang, terlebih bagi penulis pemula, menulis bukanlah pekerjaan mudah. Hal itu disebabkan dalam menulis dibutuhkan keterampilan yang kompleks. Me-nulis bukan semata-mata mentransformasikan ide atau gagasan ke dalam sombol-simbol grafis, tetapi juga merupakan cara berkomunikasi yang melibatkan proses berpikir. Bahkan, sebelum menulis, otak sudah bekerja, mencari, memilih, merumuskan, dan menggabung-kan kata-kata atau gagasan sehingga memiliki makna yang dapat dipahami orang lain (DePorter, 2001). Oleh karena prosesnya yang demikian rumit, tidaklah mengherankan jika menulis sulit dan rumit bagi penulis pemula.

Dalam pembelajaran, strategi dapat dipilih dan digunakan guru. Namun, strategi yang dipilih tersebut hendaknya disesuaikan dengan tujuan dan karakterisitik materi yang disajikan, serta kondisi siswa. Pemilihan strategi perlu dilakukan guru karena masing-masing strategi memiliki karakteristik tertentu, memiliki kelebihan dan keterbatasan tertentu pula sehingga efektifitas penggunaannya pun bergantung pada kesesuaian penggunaannya. Sebagai contoh strategi ceramah. Dalam hal tertentu, strategi ceramah memiliki keunggulan dibandingkan dengan strategi pembelajaran lainnya. Pelaksanaannya relatif mudah dan sederhana, tidak diperlukan peralatan yang rumit sehingga untuk materi pembelajaran yang bersifat informasi, strategi ceramah relatif lebih efektif. Akan tetapi, untuk pembelajaran yang bersifat kompleks seperti pembelajaran menulis, penggunaan strategi ceramah kurang efektif.

Mengingat kompleksnya pengetahuan dan keterampilan yang perlu dimiliki se-orang penulis yang baik, dalam pembelajarannya dibutuhkan strategi yang benar-benar dapat “menggiring” siswa agar memiliki sejumlah pengetahuan dan ketrampilan menu-lis. Dalam hal ini, guru dituntut memilih strategi yang dapat mengarahkan siswa mem-peroleh pengetahuan sekaligus keterampilan menulis. Strategi yang dipilih oleh guru hendaknya dapat membuat siswa memperoleh contoh tulisan yang benar, mengenali dan memahami unsur-unsur menulis, cara menulis dengan benar, serta dapat “menjem-batani” ketiganya sehingga siswa dapat mengetahui, memahami, dan dapat menulis de-ngan benar pula.

Adapun strategi alternatif yang ditawarkan untuk mengatasi permasalahan di atas adalah strategi pemodelan. Dua hal pokok yang dibahas sehubungan dengan pemilihan strategi yang ditawarkan tersebut, antara lain (1) mengapa strategi pemodelan dijadikan strategi alternatif? (2) bagaimanakah penerapan strategi pemodelan dalam pembelajaran menulis?

 

2. Hakikat Menulis

Menulis dapat dipandang dari dua sudut, yaitu menulis sebagai proses dan menulis sebagai produk. Sebagai suatu proses, menulis itu diawali dengan kegiatan memikirkan ide-ide yang relevan untuk ditulis, memfokuskan ide-ide tersebut dengan ide yang relevan dan terkait untuk dituangkan dalam bentuk tertulis yang kohesif dan koheren. Sebagai suatu produk, menulis itu merupakan penuangan gagasan dan pikiran ke dalam bentuk lambang-lambang grafik yang bermakna. Gagasan atau pikiran yang dituangkan ke dalam tulisan itu merupakan sesuatu yang diketahui atau dipikirkan untuk dipahami oleh orang lain yang membaca tulisan itu. Uraian lebih lanjut tentang menulis sebagai suatu proses dan sebagai suatu produk sebagai berikut.

 

2.1 Menulis Sebagai Suatu Proses

Menurut Dagher (1976), menulis merupakan proses berpikir. Sebagai suatu proses berpikir, kegiatan menulis mencakup kegiatan memunculkan dan memfokuskan pada ide-ide tertentu yang relevan dan terkait untuk dituangkan dalam bentuk teks tertulis yang kohesif dan koheren. Senada dengan Dagher, Tompkins (1990) menyatakan bahwa menulis merupakan suatu proses kegiatan yang meliputi (1) pramenulis (prewriting), (2) penyusunan buram (drafting), (3) perevisian (revising), (4) penyuntingan (editing),  (5) publikasi (publishing). Proses tersebut bersifat nonlinear dan tidak terpisah-pisah. Interaksi yang terjadi antara satu kegiatan dengan kegiatan lainnya bersifat simultan.

Tahap pramenulis merupakan  serangkaian kegiatan yang dilakukan sebelum ke-giatan menulis dilakukan. Donald Murray (dalam Tompkins, 1990) mengungkapkan bahwa pramenulis merupakan kegiatan yang penting dan memerlukan waktu yang lama. Pada tahap ini kegiatan yang dilakukan penulis adalah (1) memilih topik, (2) mempertimbangkan tujuan, bentuk, dan pembacanya, dan (3) memunculkan dan mengorganisasikan gagasan untuk dituangkan menjadi sebuah tulisan. Bahkan, lebih dari 70% waktu yang digunakan dalam menulis tersita pada tahap pramenulis.

Uraian di atas mengindikasikan bahwa proses menulis tersebut terjadi sebelum tangan yang memegang alat tulis menulis kata demi kata dan merangkainya menjadi sebuah karangan di atas kertas. Hal itu berarti bahwa proses menulis tersebut dimulai ketika penulis memikirkan gagasan yang akan ditulisnya. Ketika proses ini berlangsung, otak bekerja memunculkan gagasan dengan mengingat semua informasi atau fakta yang terekam, kemudian menggabungkan atau merangkai gagasan tersebut sehingga menjadi bermakna. Proses kerja otak yang demikian itu dapat dipahami karena sebelum terlahir dalam bentuk wacana lisan dan atau tulisan yang dapat dipahami orang lain, informasi (berupa kata-kata) yang tersimpan dalam memori pembicara/penulis bersifat nonlinear, terpisah-pisah, bukan seperti sebuah format yang teratur dan rapi seperti sebuah daftar. Ketika akan berkomunikasi (tulis atau lisan), otak mencari, memilah, memilih, meru-muskan, merapikan, mengatur, menghubungkan, dan menggabungkan kata-kata atau gagasan sehingga memiliki makna yang dapat dipahami orang lain (DePorter dan Mike, 1992).

Uraian di atas tidak hanya memperjelas proses yang terjadi ketika seseorang akan menulis, tetapi juga membantu memperjelas mengapa menulis sulit bagi siswa (penulis pemula). Di dalam otak, gagasan yang akan disampaikan kepada orang lain bukan dalam bentuk yang siap tulis, tetapi bersifat nonlinear dan terpisah-pisah. Sebelum ditulis, gagasan tersebut perlu dipilih, dipilah, dan dirangkaikan menjadi sebuah gagasan yang lengkap. Dalam proses tersebut, gagasan yang nonlinear dan terpisah-pisah tersebut di-kerangkakan secara internal dan atau secara eksternal oleh siswa.

Bagi sebagian siswa, proses pengerangkaan gagasan ini tidak mudah. Proses ini tidak hanya memerlukan waktu yang lama, tetapi juga dapat menyebabkan kegagalan  pada tahap menulis selanjutnya. Bahkan, sebagian besar kegagalan siswa dalam menulis terjadi ketika proses ini berlangsung. Ketika akan menulis, siswa berpikir dan berpikir tanpa menulis sepatah kata pun di lembar kerjanya; siswa bingung menentukan gagasan yang akan ditulisnya. Kadang-kadang, ada juga siswa yang menulis sebuah kalimat kemudian mencoretnya. Hal ini dilakukan berulang-ulang sehingga yang ada di lembar kerjanya adalah rangkaian kalimat yang dicoret-coret yang tidak memiliki hubungan yang logis dan tidak gramatikal.

Dalam situasi yang demikian itu dibutuhkan sarana atau cara untuk membantu siswa agar dapat mengerangkakan gagasannya. Sarana atau cara tersebut hendaknya da-pat menjadi ”jembatan” (scaffolding) antara siswa dengan perilaku keterampilan menulis yang ingin dicapai. Selain itu, sarana atau cara ini hendaknya memiliki banyak titik kontak dengan perilaku yang diharapkan dalam menulis.

Tahap menulis selanjutnya adalah menyusun buram. Pada tahap ini, penulis me-nuangkan gagasannya ke dalam bentuk tulisan. Gagasan dalam otak yang telah dipikir, dipilih, dipilah, dan dirangkaikan tersebut diwujudkan melalui lambang-lambang grafis. Perhatian penulis tidak difokuskan pada penggunaan ejaan, tanda baca, atau kesalahan mekanikal lainnya, tetapi  lebih difokuskan pada gagasan “apa” dan “bagaimana” menuangkannya ke dalam bentuk tulis secara efektif (Tompkins, 1990; Troyka, 1987).

Penuangan gagasan ke dalam bentuk tulisan bukan semata-mata aktivitas fisik menulis “apa” yang ada dalam pikiran, tetapi juga aktivitas mental. Ketika menulis sebuah kalimat, penulis memikirkan apakah gagasan yang telah ditulis tersebut sesuai dengan maksud yang ada dalam pikirannya. Kadang-kadang, ketika menulis penulis juga berpikir apakah gagasan yang ditulis tersebut sudah cukup atau perlu ditambah. Aktivitas mental lain mungkin dilakukan oleh penulis ketika menulis adalah menilai apakah kata-kata yang digunakan dalam kalimat tersebut sesuai dengan calon pembacanya.

Setelah menyusun buram, tahap selanjutnya adalah perevisian. Troyka (1987) mengemukakan bahwa inti kegiatan merevisi adalah “melihat” kembali buram yang telah disusun. Aktivitas “melihat” dalam konteks ini bukan semata-mata aktivitas fisik, tetapi juga merupakan kesempatan bagi penulis untuk memikirkan kembali gagasan yang dituangkan ke atas kertas. Pada kesempatan tersebut, gagasan yang telah dituangkan di atas kertas dinilai kembali oleh penulis; apakah gagasan tersebut sudah ditata dengan tepat, apakah gagasan tersebut dapat dipahami pembaca. Gagasan-gagasan tersebut dapat diganti jika dianggap penataan gagasannya kurang tepat. Bahkan, peng-gantian dan penyusunan ulang dapat dilakukan jika penulis mendapati adanya kesalahan atau kekurang-jelasan gagasan dalam buram tersebut.

Tahap terakhir sebelum publikasi adalah penyuntingan (editing). Pada tahap ini, kegiatan yang dilakukan adalah memperhalus buram menjadi tulisan (karangan) yang mudah dipahami. Kegiatan yang dilakukan lebih ditekankan pada penataan aspek kebahasaan, misalnya mengubah struktur kalimat, pilihan kata, memperbaiki ejaan dan tanda bacanya (Tompkins, 1994).

Dalam karangan yang sudah direvisi masih sering didapati penggunaan struktur kalimat yang tidak tepat, pilihan kata yang kurang tepat, atau penggunaan tanda baca yang salah, misalnya struktur kalimat yang tidak lengkap tidak, kata yang digunakan bersifat umum, atau penggunaan tanda koma yang tidak tepat. Karangan yang seperti itu sulit dipahami pembaca. Untuk mamahaminya diperlukan waktu yang lama, bahkan pembaca berulang-ulang membacanya. Oleh karena itu, sebelum karangan tersebut dipublikasikan, penulis perlu memeriksa dan memperbaiki struktur kalimat, mengganti kata-kata yang tidak tepat, dan memperbaiki penggunaan tanda bacanya.

 

2.2. Menulis Sebagai Suatu Produk

Menulis dapat pula didefenisi sebagai suatu kegiatan penyampaian pesan (komunikasi) dengan menggunakan bahasa tulis sebagai medianya (Suparno dan Moh. Yunus, 2008). Dalam defenisi tersebut terkandung makna bahwa pesan (isi informasi) merupakan hal pokok dalam menulis; tanpa ada pesan/informasi yang disampaikan,  kegiatan menulis tidak memiliki makna.

Cox (1999) mengemukakan bahwa menulis merupakan suatu cara untuk mengetahui dan menemukan sesuatu yang diketahui oleh seseorang yang terekam dalam pikirannya. Sesuatu  yang diketahui dan terekam dalam pikiran orang itulah  yang diturunkan ke dalam bentuk lambang-lambang grafis yang mewakili suatu bahasa yang dipahami seseorang sehingga orang lain yang memahami lambang-lambang grafis dan bahasa tersebut dapat membaca dan memahami isinya (Lado, 1979).

Pendapat lain yang secara implisit mengemukakan bahwa menulis itu sebagai suatu produk adalah sebagai berikut berikut.

Seseorang tidak dapat menulis apabila ia tidak tahu apa yang akan ditulisnya. Oleh karena itu penulis harus mampu menemukan dan memahami masalah yang akan ditulisnya. … masyarakat dan lingkungannya sangat membantu penulis dalam mencari, menemukan dan memahami masalah.

…. Di samping itu, seorang penulis harus juga mampu melihat hubugan-hubungan antara gejala-gejala  dan kejadian-kejadian yang dilihatnya. ….

(Syafei, 1988:45).

 

Berdasarkan beberapa pendapat dan uraian di atas, dapatlah disimpulkan bahwa sebagai suatu produk, menulis itu merupakan rekonstruksi dari pengetahuan penulis yang diwujudkan dalam bentuk tulisan.

 

3. Pemodelan dalam Pembelajaran Menulis

3.1 Landasan Teori

Strategi pemodelan berlandaskan pada teori belajar sosial. Teori belajar yang dikembangkan oleh Albert Bandura tersebut merupakan perluasan dari teori behavioris-tik. Teori ini menerima sebagian prinsip-prinsip teori belajar perilaku dan teori belajar kognitif.

Menurut Bandura (dalam Dahar, 1988), manusia tidak didorong oleh kekuatan dari dalam dan tidak juga “dipukul” oleh stimulus-stimulus lingkungan yang dihadapkan padanya. Manusia berinteraksi secara timbal balik dengan faktor-faktor yang berpengaruh terhadap dirinya dan faktor-faktor lingkungan. Melalui pengamatan dan interpretasi terhadap dunia sosial, manusia memperoleh informasi. Bahkan, melalui pengamatan terhadap berbagai penampilan, manusia dapat mempelajari berbagai keterampilan yang kompleks.

Ada empat konsep utama teori yang dikembangkan oleh Albert Bandura ini, yaitu (1) belajar dari model, (2) belajar vicarious, dan (3) pengaturan sendiri. Ketiga konsep teori  belajar tersebut dipaparkan secara singkat berikut ini.

3.1.1.  Belajar dari Model

Sebagian besar belajar yang dialami manusia tidak dibentuk dari konsekuensi-konsekuensi, tetapi manusia tersebut belajar dari suatu model. Belajar dengan cara ini tidak melalui proses pembentukan (shaping process), tetapi dapat segera menghasilkan respon yang benar.

Ada empat fase belajar dari model, yaitu (1) fase perhatian, (2) fase retensi atau pengulangan, (3) fase reproduksi, dan (4) fase motivasi. Fase pertama dalam belajar dari model ialah memperhatikan model. Pada umumnya, siswa memberikan perhatian pada model yang menarik, berhasil, menimbulkan minat, dan populer.  Dalam kelas, model yang menyajikan isyarat-isyarat yang jelas dan menarik akan memperoleh perhatian dari para siswa sehingga menimbulkan minat dan keinginan meniru model yang ditampilkan. Fase kedua belajar dengan meniru model adalah retensi. Dalam meniru model, perilaku, kata-kata, nama-nama, atau bayangan yang kuat dari model penting untuk diulang. Oleh karena itu, retensi terhadap apa yang diamati, misalnya tentang cara melakukan sesuatu, akan memperkuat memori jangka panjang siswa. Pengulangan ini juga menolong terbentuknya kesesuaian antara perilaku yang diamati dengan perilaku pengamatnya (siswa). Fase ketiga adalah fase reproduksi. Dalam fase ini, bayangan (imagery) atau kode-kode simbolik verbal dalam memori membimbing tampilan yang sebenarnya dari perilaku yang baru diperoleh. Pada fase ini guru akan dapat melihat apakah komponen-komponen suatu urutan perilaku telah dikuasai oleh siswa. Di sinilah pentingnya fase ini. Dengan penampilan perilaku yang diharapkan, guru akan mengetahui berhasil tidaknya pembelajaran yang dilaksanakan guru. Fase terakhir dari strategi meniru model ini adalah pemotivasian. Dalam fase ini, guru akan memberikan reinforsemen kepada siswa yang meniru model. Siswa akan berusaha sedapat mungkin meniru model yang ditampilkan karena mereka merasa bahwa dengan berbuat demikian mereka akan memperoleh respon yang menyenangkan dari gurunya.

Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa belajar adalah upaya individu yang dilakukan secara sadar untuk meningkatkan pengetahuan, keteram-pilan, dan sikap yang diwujudkan dalam bentuk perilaku agar dapat berinteraksi dengan lingkungannya. Ketika belajar, individu berupaya secara sadar menerima, memproses, memilih, dan memperlakukan informasi agar dapat diwujudkan dalam bentuk perilaku. Individu yang telah belajar pengetahuan, keterampilan, dan sikapnya menjadi lebih baik. Hal tersebut diwujudkan dalam bentuk kemampuan individu berinteraksi dengan ling-kungannya.

3.1.2  Belajar Vicarious

Sebagian besar belajar melalui pengamatan dimotivasi oleh harapan bahwa meniru model dengan baik akan memperoleh reinforsemen. Namun, ada juga orang belajar setelah melihat orang lain diberi reinforsemen atau hukuman ketika terlibat dengan perilaku-perilaku tertentu.

Belajar vicarious sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, orang menghindari tindak kriminal setelah menyaksikan “pengadilan massa” terhadap pelaku tindak kriminal seperti di tayangkan oleh beberapa stasiun televisi. Orang yang berniat melakukan tindak kriminal menjadi khawatir jika didapati melakukan tindak kriminal akan diperlakukan dengan cara yang sama seperti yang disaksikannya melalui siaran televisi. Contoh lain yang sering dijumpai adalah seorang anak yang giat berlatih sepak bola setelah melihat kepopuleran dan keberhasilan David Bekham.

3.1.3  Pengaturan Sendiri

Bandura berhipotesis bahwa manusia itu mengamati perilakunya sendiri, mem-pertimbangkan perilaku tersebut dengan kriterianya sendiri, dan memberi reinforsemen atau hukuman pada dirinya sendiri. Setiap orang tahu bahwa performansi yang ia tunjukkan dalam melakukan sesuatu sudah sesuai dengan performasi sebenarnya atau tidak. Orang juga tahu perilaku yang cocok buat dirinya dan perilaku yang tidak cocok buat dirinya, walaupun perilaku tersebut sama-sama merupakan sesuatu yang baik. Orang juga tahu kapan ia melakukan perilaku tertentu; kapan ia tidak melakukan perilaku tertentu. Dengan singkat dapat dikatakan bahwa seseorang mempunyai kemam-puan untuk mengatur dirinya.

 

3.2 Strategi Pemodelan dalam Pembelajaran Menulis

3.2.1 Pendekatan dan Langkah-langkah Strategi Pemodelan

Pendekatan yang digunakan dalam pembelajaran menulis dengan strategi pe-modelan adalah gabungan pendekatan model prosa dan pendekatan proses. Pendekatan ini didasarkan pada asumsi bahwa keterampilan menulis dapat ditingkatkan dengan cara membaca. Ong (Donnovan dan Ben, 1980: 21) mengemukakan “Tidak ada jalan lain untuk menulis kecuali Anda memba-ca dan banyak membaca.” Para penulis profesional sudah lama mengakui nilai membaca; mereka tahu bahwa cara mereka me-nulis ditentukan oleh apa yang mereka baca. Dengan membaca, penulis melihat cetakan kata; mereka mengembangkan keterampilan mata dan telinga mereka untuk bahasa, bentuk dan urutan kalimat dan tekstur paragraf.

Para penganjur pendekatan ini yakin bahwa salah satu cara terbaik untuk bel-ajar menulis adalah dengan membaca, menganalisis, dan meniru model tulisan yang baik (Otobiagrafi Benjamin Franklin, 1771-1790 dalam Eastman, 1978:31). Mereka merasa bahwa cara semacam itu akan memberi siswa paparan tentang gagasan baru yang penting dan pola organisasi dasar pada prosa nonfiksi serta strategi atau teknik lainnya yang digunakan penulis yang baik.

Langkah-langkah pembelajaran dengan strategi pemodelan relatif sederhana. Esholz (Donnovan dan McClelland, 1980) mengungkapkan seperti berikut, “These exercise follow three basic steps: students read the model sentence or paragraph, analyze the structure of the model, pointing out distinctive stylistic features, and write a sentence or paragraph in close imitation of the model.” Dalam satuan pembelajaran, kegiatan pembelajaran diawali dengan membaca teks model. Selanjutnya, siswa diminta mempelajari bacaan dengan menjawab pertanyaan tentang organisasi pengembangan paragraf, struktur kalimat, dan  diksinya. Kemudian, perhatian difokuskan pada tujuan penulis, dan organisasi tulisannya dengan menganalisis beberapa contoh untuk menggambarkan rancangan organisasi dan penggunaan transisi yang efektif. Langkah terakhir, setiap siswa ditugaskan menulis dengan memanfaatkan teks model yang tersedia.

Dalam pembelajaran menulis dengan pendekatan ini, setiap langkah pembel-ajarannya dilaksanakan dengan fokus tertentu (Donnovan dan McClelland, 1980). Kegiatan membaca untuk memahami isi teks model merupakan tahap awal dari kegiatan membaca teks model (Celce dan Murcia, 2000). Fokus utama kegiatan membaca teks model tersebut adalah memberi topik bahasan untuk tulisan, merangsang siswa untuk menulis, dan memberi model untuk ditiru. Kegiatan menganalisis paragraf teks model difokuskan agar siswa mengenali unsur yang membangun paragraf, mengenali karak-teristik paragraf yang baik, dan mengetahui teknik pengembangannya. Sementara itu, latihan menulis dengan meniru model difokuskan agar siswa dapat mengungkapkan pi-kiran, gagasan, pendapat, atau perasaannya secara tertulis dengan cara yang serupa dengan yang terdapat pada teks model.

Dalam strategi ini, yang ditiru bukan kata demi kata atau kalimat demi kalimat, tetapi cara atau teknik pengembangan paragrafnya. Peniruan terhadap cara atau teknik pengembangan paragraf teks model dilakukan untuk mempermudah siswa mengerang-kakan pikiran atau gagasannya secara tertulis (Marahimin, 2001)

Model merupakan salah satu faktor penting dalam pembelajaran menulis dengan strategi pemodelan. Dalam pembelajaran menulis dengan strategi pemodelan, peng-gunaan model bukan sekadar sebagai contoh untuk ditiru; bukan semata-mata agar siswa melihat contoh, mengetahui bentuk teknik menulis yang baik, dan dapat mengerjakan sesuatu sesuai dengan model, tetapi juga berperan sebagai pemberi topik bahasan untuk menulis (Celce dan Murcia, 2000; Eastman, 1978;  Oka, 2002).

Mengingat pentingnya peran model tersebut, maka model yang dipilih untuk disajikan kepada siswa dalam pembelajaran menulis paragraf dengan strategi pemodelan selayaknyanya memenuhi beberapa kriteria yang mengacu kepada peran model tersebut. Kriteria tersebut adalah (1) model dapat memberi topik bahasan untuk tulisan, (2) dapat dijadikan sarana untuk menganalisis unsur pembentuk paragraf, merumuskan karak-teristik paragraf, dan menemukan cara mengembangkan gagasan atau topik menjadi paragraf yang baik, dan (3) model pengembangan paragrafnya dapat ditiru untuk mengembangkan gagasan atau topik menjadi paragraf yang baik.

 

3.2.2 Penerapan Strategi Pemodelan dalam Pembelajaran Menulis

Sebelum pembelajaran menulis dilaksanakan, langkah pertama yang perlu diperhatikan sebelum pembelajaran dilaksanakan adalah menetapkan standar kompetensi (SK)/kompetensi dasar (KD) yang akan dibelajarkan kepada siswa. Sebagai contoh pem-belajaran Bahasa Indonesia di SMP kelas VIII semester 2, SK yang akan dibelajarkan adalah mengungkapkan informasi dalam bentuk  rangkuman, teks berita, slogan/poster (SK nomor 12) dan KD yang dipilih adalah keterampilan menulis teks berita secara sing-kat, padat, dan jelas (KD nomor 12.2)

Tahap berikutnya adalah menentukan dan memilih teks model yang sesuai dengan tema pelajaran. Pilihlah satu atau beberapa teks berita dari surat kabar yang aktual untuk dijadikan teks model. Sebagai contoh, teks berita yang dijadikan model berjudul ”Samarinda Seberang Kembali Membara” (SK Radar Tarakan edisi Senin, 7 Desember 2009, halaman 4) sebagai berikut.

 

SAMARINDA SEBERANG KEMBALI MEMBARA

Samarinda-Kecamatan Samarinda Seberang kembali dilanda kebakaran.  Kali ini peristiwa kebakaran itu terjadi di jalan Daeng Mangkona RT 18 pada Minggu (6/12) sekitar pukul pukul 20.30 wita. Empat rumah yang dihuni 5 kepala keluarga  dan 17 jiwa ludes dilalap si jago merah hanya dalam waktu 30 menit. Api berhasil dipadamkan satu jam kemudian.

Syaiful, seorang warga RT 18 mengungkapkan, api terlihat sekitar pukul 20.30 wita dari rumah Iskandar (70). ”Api langsung membesar, kami hanya bisa membantu dengan alat seadanya.

Setelah SK/KD dan teks model ditetapkan, prosedur pembelajarannya dilak-lsanakan dengan langkah-langkah berikut.

3.2.2.1 Tahap Prapenulisan

Ada dua kegiatan yang dilaksanakan pada tahap prapenulisan tersebut, yaitu (1) membaca untuk memahami isi bacaan (teks model) dan (2) menganalisis unsur pemben-tuk paragraf teks model. Untuk membaca,  kegiatan ter-sebut difokuskan pada upaya pemberian topik tulisan kepada siswa. Untuk itu, setelah siswa membaca teks model, lakukan tanya jawab dengan siswa.

Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepada siswa dalam tanya jawab tersebut dimaksudkan untuk menguji sekaligus memperkuat pemahaman siswa tentang isi bacaan (teks model). Pertanyaan-pertanyaan yang dapat diajukan sehubungan dengan isi bacaan (teks model), antara lain: (1) apa yang dibicarakan dalam bacaan tersebut? (2) kapan peristiwa itu terjadi? (3) di mana peristiwa itu terjadi? (4) berapa jumlah rumah yang habis terbakar? (5) berapa lama peristiwa kebakaran itu terjadi? (6) siapa yang menjadi saksi dalam peristiwa kebakaran itu?

Setelah siswa memahami isi bacaan, siswa diarahkan dengan pertanyaan-pertanyaan untuk menganalisis unsur pembentuk paragraf bacaan. Fokus utama kegiatan menganalisis unsur paragraf adalah agar siswa mengenali unsur yang membangun pa-ragraf, mengenali karakteristik paragraf yang baik, dan mengetahui teknik pengem-bangannya.

Pertanyaan-pertanyaan yang dapat diajukan kepada siswa untuk menganalisis unsur pembentuk paragraf bacaan tersebut, antara lain: (1) apa yang menjadi pokok pembicaraan dalam paragraf tersebut? (2) kalimat manakah yang menunjukkan hal itu? (3) kalimat manakah yang menjelaskan pokok pembicaraan itu? (4) bagian manakah dari kalimat 2 yang mengacu kepada kalimat 1? (5) bagaimanakah paragraf tersebut dikembangkan? Pertanyaan (1) mengarahkan pemahaman  siswa tentang ide pokok/ gagasan utama paragraf. Pertanyaan (2) mengarahkan pemahaman siswa tentang kalimat utama atau kalimat topik. Pertanyaan (3) mengarahkan pemahaman siswa tentang ide penjelas (ide pendukung)/kalimat penjelas. Pertanyaan (4) mengarahkan pemahaman siswa tentang penanda-hubungan pertautan antarkalimat dalam sebuah paragraf. Pertanyaan (5) mengarahkan pemahaman siswa tentang teknik pengembangan paragraf bacaan.

 

3.2.2.2  Tahap Penulisan

Bertitik tolak dari kegiatan pada tahap prapenulisan, proses menulis dimodelkan. Pemodelan proses menulis tersebut diawali dengan mengarahkan siswa menentukan topik dan bahan tulisannya. Upaya tersebut dilakukan dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mengarahkan siswa mengungkapkan pengetahuan atau pengalamannya yang berkaitan dengan isi bacaan. Pertanyaan-pertanyaan yang dapat diajukan untuk mengungkapkan pengetahuan atau pengalamannya yang berkaitan dengan isi bacaan, antara lain (1) apakah peristiwa serupa pernah kalian dengar atau pernah terjadi di sekitar kalian? (2) kapan hal itu terjadi? (3) apa yang menyebabkan hal itu terjadi? (4) bagaimana kronologi kejadian itu? (5) berapa rumah yang terbakar? (6) adakah korban jiwa dalam peristiwa itu? Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan tersebut, tidak hnaya sekadar ”memantik” topik tulisan, tetapi juga membangkitkan pengetahuan atau peng-alaman siswa sebagai bahan tulisan..

Tahap pemodelan proses menulis berikutnya adalah penyusunan draft (buram) tulisan.  Penyusunan buram tulisan merupakan kegiatan penuangan ide/gagasan ke da-lam bentuk tulisan. Pada tahap ini, siswa yang telah memahami dan memiliki keteram-pilan menulis yang baik dapat diberi keluasaan untuk menentukan topik dan bahan tulisannya, tetapi bagi siswa yang belum terampil, maka disarankan untuk memilih topik dan bahan tulisan yang diperoleh melalui kegiatan tanya jawab pada tahap penentuan topik dan bahan tulisan.

Ketika siswa menulis buram tulisan, siswa yang belum terampil disarankan memanfaatkan paragraf teks model dengan meniru pengembangan paragraf teks model. Berikut disajikan contoh pemanfaatan teks model ketika menulis buram tulisan.

 

Teks Model Contoh Hasil 1 Contoh Hasil 2
Tema: Peristiwa Tema: Peristiwa Tema: Peristiwa
Topik: Kebakaran di Samarinda Seberang Topik: Kebakaran Rumah Dinas Guru di Desa Antutan Topik: Kebakaran Lahan di Km 12 Desa Bumi Rahayu.
Samarinda-Kecamatan Samarinda Seberang kembali dilanda kebakaran.  Kali ini peristiwa kebakaran itu terjadi di jalan Daeng Mangkona RT 18 pada Minggu (6/12) sekitar pukul pukul 20.30 wita. Empat rumah yang dihuni 5 kepala keluarga  dan 17 jiwa ludes dilalap si jago merah hanya dalam waktu 30 menit. Api berhasil dipadamkan satu jam kemudian.

Syaiful, seorang warga RT 18 mengungkapkan, api terlihat sekitar pukul 20.30 wita dari rumah Iskandar (70). ”Api langsung membesar, kami hanya bisa membantu dengan alat seadanya.

 

Bulungan-Desa Antutan baru-baru ini dilanda kebakaran. Kebakaran itu terjadi di jalan  Durian RT 05 pada Jumat (11/12) sekitar pukul 15.30 wita. Tiga buah rumah dinas guru SD yang dihuni oleh tiga orang guru habis dilalap api hanya dalam waktu kurang lebih 1 jam.

 

 

Hermansyah, seorang saksi mata mengatakan bahwa kobaran api bermula dari bagian atas rumah. ”Dalam waktu yang sangat singkat api menjalar ke dua buah rumah dinas yang terbuat dari kayu. Kami tidak bisa berbuat apa-apa karena tidak tersedianya air dan peralatan yang memadai.”

Bulungan-Desa Bumi Rahayu kembali dilanda ke-bakaran lahan. Kali ini peris-tiwa itu terjadi di lahan ko-song sekitar 1 km dari pemu-kiman penduduk. Diperkirakan lebih dari 10 hektar lahan kosong menjadi hangus karena keganasan si jago merah.

 

 

Menurut Kepala Desa Bumi Rahayu, kepulan asap mulai terlihat sekitar pukul 12.15 wita. ”Api langsung membesar dan menjalar ke segala arah karena rumput banyak yang mati akibat musim kemarau panjang dalam dua bulan terakhir.

 

Contoh hasil 1 dan 2 adalah model tulisan yang dikembangkan dengan meman-faatkan teks model.  Pada contoh  1 dan 2, tema tulisan sama dengan teks model, tetapi topik 1 dan 2 berbeda dari segi tempat. Kalimat pertama pada contoh hasil 1 dan 2 diawali informasi tentang peristiwa kebakaran; yang membedakannya dengan teks model adalah nama tempat kejadian kebakaran. Kalimat kedua pada contoh hasil 1 dan 2 menyajikan informasi tentang waktu kejadian sebagaimana pada kalimat kedua teks model. Walaupun demikian, waktu kejadian pada contoh hasil 1 dan hasil 2 berbeda dengan teks model; demikian pula dengan kalimat-kalimat selanjutnya. . dengan nama tempat kejadian

Pemodelan proses menulis berikutnya adalah tahap perevisian. Untuk memper-mudah kegiatan perevisian tersebut, siswa dapat memanfaatkan teks model. Untuk mengetahui letak kesalahan yang terdapat pada kalimat yang dibuat, siswa dapat membandingkannya dengan yang terdapat pada teks model. Untuk itulah, maka teks model yang dipilih selayaknya sudah memenuhi syarat kebahasaan.

Pemodelan proses menulis berikutnya adalah tahap penyuntingan. Pada tahap penyuntingan siswa dapat melihat kembali penggunaan ejaan dan tanda baca yang benar sebagaimana yang terdapat dalam teks model. Dengan melihat penggunaan ejaan dan tanda baca teks model siswa, siswa dapat menentukan apakah ejaan dan tanda baca dalam teks yang dibuatnya benar atau salah.

 

3.2.2.3 Penilaian

Ada dua model penilaian yang digunakan dalam pembelajaran menulis dengan strategi pemodelan, yaitu penilaian proses selama pembelajaran dan penilaian produk hasil pembelajaran. Untuk penilaian proses selama pembelajaran, instrumen penilaian yang digunakan dapat berupa penilaian diri dan lembar pengamatan terhadap kinerja siswa selama melaksanakan proses pembelajaran menulis. Dalam penilaian proses tersebut, kinerja siswa pada tahap prapenulisan dan tahap penulisan diamati dan  digunakan sebagai bahan untuk memperbaiki proses pembelajaran. Sementara itu, instrumen penilaian produk hasil pembelajaran berupa seperangkat kriteria tentang tulisan yang baik. Dengan membandingkan kriteria tulisan yang baik dengan tulisan siswa maka dapat ditentukan berhasil atau tidaknya siswa.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

4. Penutup

Menulis merupakan salah satu keterampilan berbahasa yang perlu dikuasai. Dengan menguasai keterampilan tersebut, seseorang dapat mengungkapkan pikiran, perasaan, dan informasi secara tertulis dengan tepat pula. Namun, pada kenyataannya keterampilan tersebut sulit dikuasai. Bahkan, sebuah survey terhadap guru bahasa Indonesia mengungkapkan bahwa pelajaran bahasa Indonesia yang paling tidak disukai oleh guru dan siswa adalah pembelajaran menulis.

Banyak faktor yang diduga sebagai penyebab siswa tidak menyukai dan tidak berhasil dalam pembelajaran menulis, di antaranya (1) rendahnya minat siswa, (2) siswa tidak tahu manfaatnya, (3) guru yang tidak siap membelajarkan keterampilan menulis, (4) pembelajaran menulis yang berfokus pada teori, dan (5) ketidaksesuaian antara strategi pembelajaran menulis yang dipilih dengan kondisi siswa..

Selain faktor-faktor tersebut, kegiatan menulis memang membutuhkan pengetahuan dan keterampilan yang kompleks. Untuk dapat menulis dengan baik, sekurang-kurangnya ada tiga hal yang perlu dikuasai oleh seorang penulis. Ketiga hal tersebut antara lain (1) penguasaan terhadap topik yang akan ditulis, (2) pengetahuan yang baik tentang kaidah tulisan, dan (3) keterampilan menuangkan ide/gagasan dalam bentuk tulisan.

Bertitik tolak dari faktor-faktor penyebab di atas, diajukan sebuah strategi alternatif pembelajaran keterampilan menulis. Strategi tersebut dikenali sebagai pemodelan. Diajukannya strategi pemodelan untuk pembelajaran keterampilan menulis didasarkan pada beberapa faktor. Pertama, dengan strategi pemodelan siswa akan memperoleh contoh tulisan yang memadai. Kedua, melalui strategi pemodelan siswa akan mengenali unsur pembentuk dan organisasi tulisan. Ketiga, melalui strategi pemodelan, siswa akan mengetahui cara menulis dengan benar. Keempat, strategi pemodelan dapat menjembatani tiga pengetahuan tersebut ketika siswa berlatih menulis.

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

Adi, Pidekso. 1993. Pola Latihan Menulis dan Permasalahannya dalam Pengajaran Menulis di SMA Kabupaten Banyuwangi. Tesis tidak diterbitkan. Malang: PPS IKIP Malang.

 

Akhmadi, Mukhsin. 1990. Penyusunan dan Pengembangan Paragraf serta Pencipta-an Gaya Bahasa Karangan. Malang: Yayasan Asih Asah Asuh.

 

Bandura, Albert. 1977. Social Learning Theory. Englewood Cliffs, N.J.: Prentice-

Hall Inc.

 

Celce-Murcia, Marianne, and Elite Olsthain. 2000. Discourse and Context in        Language Teaching A Guide For Language Teacher. Cambridge: University Press.

 

Cooper J. David. 2000. Literacy Helping Children Construct Meaning. Boston: Houghton Mifflin Company.

 

Cox, Carole. 1998. Teaching Language Arts: A Student and Respon-Centered Calssroom. Boston: Allyn and Bacon.

 

Dagher, J. P. 1976. Writing A Practical Guide. Boston: Houghton Mifflin Company.

 

Dahar, Ratna Willis. 1988. Teori-teori Belajar. Jakarta: Depdikbud

 

Departemen Pendidikan Nasional. 2000. Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis

Sekolah. Jakarta : Proyek Peningkatan Mutu SLTP Jakarta

 

Donovan, Timothy R.,  Ben W. McCleland,. 1980. Eight Approaches to Teaching  Composition. Illinois: National Council of Teachers of English.

 

Eastman, Richard M. 1978. Style Writing and Reading As The Discovery of Outlook Second Edition. New York: Oxford University Press.

 

Faisal, Muh. 1997. Pengembangan Kreativitas Siswa Melalui Pembelajaran Ketrampilan Menulis Terpadu. Jurnal Pendidikan Humaniora dan Sains. Tahun 3, Nomor 1, April 1997. halaman 1.

 

Fraenkel, Jack R. 1980. Helping Students Think and Value Strategies for Teaching The Social Studies Second Edition. New Jersey: Prentice Hall Inc.

 

Gredler, Margaret E. Bell. 1991. Belajar dan Membelajarkan (Diterjemahkan Munandir). Jakarta: Penerbit Rajawali.

 

Jack J. Richards & Willy A. Renandya. (Eds.). 2002. Methodology in Language Teaching An Anthology of Curent Practice. USA: Cambridge University Press.

 

Marahimin, Ismail. 1994. Menulis Secara Populer. Jakarta: Pustaka Jaya.

 

Oka, D. Djoehana. 2002. Pemodelan (Modeling). Makalah dalam Pelatihan TOT

Guru Mata Pelajaran Bahasa Indonesia.

 

Reingking, A. James, Andrew W. Hart, Robert von der Osten. 1999. Strategies for Successful Writing: A Rehoric, Research Guide, Reader, and Handbook, Fifth Edition. Upper Saddle River, New Jersey: Prentice-Hall, Inc.

 

Sorenson, Sharon. 2000. Webster’s New World Student Writing Handbook, Fourth Edition. Foster City, CA.: IDG Books Worldwide, Inc.

 

Syafi’ ie, Imam. 1988. Retorika dalam Menulis. Jakarta: Depdikbud.

 

Suparno, dan Mohamad Yunus, 2008. Keterampilan Dasar Menulis. Jakarta: Universitas Terbuka.

 

Tompkins, Gail E. 1994. Teaching Writing: Balancing Process and Product, Second Edition. USA: Macmilan College Publishing Company.

 

Universitas Negeri Malang. 2000. Pedoman Penulisan Karya Ilmiah. Malang:

Penerbit Universitas Negeri Malang.

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: